Momentum Hari Kebangkitan Nasional, Hasto Soroti Ketergantungan Ekonomi pada Produk Asing

Rabu, 20 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo

Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo

JABAROKENEWS.COM, YOGYAKARTA — Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, memaknai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 sebagai momentum untuk membangun kedaulatan ekonomi bangsa. Menurutnya, Indonesia memang telah merdeka secara politik, namun belum sepenuhnya berdikari di bidang ekonomi.

Pernyataan itu disampaikan Hasto saat ditemui di sela kegiatan open house Walikota Yogyakarta, Rabu (20/5/2026). Dalam refleksinya terhadap Hari Kebangkitan Nasional, Hasto menyoroti ketimpangan ekonomi, dominasi produk asing, hingga lemahnya kemandirian industri nasional.

“Sebagai bangsa kita sudah merdeka, berdaulat dalam bidang politik. Tapi kita belum berdikari dalam bidang ekonomi,” kata Hasto.

Ia mengaitkan semangat kebangkitan nasional dengan sejarah perjuangan bangsa sejak lahirnya Budi Utomo pada 1908 hingga Sumpah Pemuda 1928, yang menurutnya muncul karena kesadaran kolektif melawan ketertindasan kolonial.

Kala itu, kata Hasto, akses pendidikan sangat terbatas sehingga memunculkan perlawanan generasi muda terhadap penjajahan hingga akhirnya Indonesia meraih kemerdekaan pada 1945.

Namun, menurut Hasto, tantangan kebangkitan saat ini telah berubah. Jika dulu perjuangan difokuskan pada kedaulatan politik, maka kini tantangan terbesar adalah mewujudkan kemandirian ekonomi nasional.

“Hari ini siapa yang mau jadi pahlawan berdikari dalam bidang ekonomi? Saya belum lihat,” ujarnya.

Hasto menilai Indonesia masih terlalu bergantung pada produk asing, termasuk dalam sektor perdagangan digital. Ia mencontohkan dominasi marketplace asing hingga tingginya konsumsi produk impor di masyarakat.

Karena itu, ia menyerukan gerakan “bela dan beli produk Indonesia” sebagai bentuk perjuangan ekonomi generasi masa kini.

“Ayo kita bela dan beli produk Indonesia. Kita makan dan minum produk sendiri. Kita tanam yang kita makan, bikin yang kita minum, dan meminum yang kita bikin,” tegasnya.

Dalam pandangannya, kemerdekaan politik tanpa diikuti kemandirian ekonomi berpotensi membuat bangsa tetap berada dalam situasi ketergantungan.

Ia juga menyinggung persoalan struktural ekonomi nasional, termasuk ketimpangan distribusi kekayaan. Menurut Hasto, sebagian besar kekayaan masih terkonsentrasi pada kelompok kecil masyarakat.

“Uang negara ini sebagian besar dikuasai segelintir orang. Siapa pahlawan yang bisa menggerakkan distribusi kesejahteraan kepada lebih banyak orang? Itu butuh pahlawan,” katanya.

Menurutnya, anak muda perlu membangun keberanian untuk melawan ketergantungan ekonomi dengan mencintai produk dalam negeri.

“Peranglah dengan cara ideologi, bukan teknologi. Kalau perang teknologi kita pasti kalah. Tapi kalau perang ideologi, saya tidak akan membeli produkmu, saya beli produk saya sendiri, itu kita bisa menang,” ujarnya.

Ia menegaskan pesan tersebut bukan dimaksudkan untuk menumbuhkan sentimen anti-asing, melainkan memperkuat semangat kemandirian nasional.

“Bukan benci asing, tapi cinta kemandirian,” kata Hasto.

Selain itu, Hasto menyebut Pemerintah Kota Yogyakarta mendukung penguatan karakter kebangsaan melalui pendidikan berbasis nilai lokal. Salah satunya melalui kurikulum pendidikan khas Kejogjaan yang diinisiasi Pemerintah Daerah DIY.

Menurutnya, nilai gotong royong dan karakter luhur masyarakat Yogyakarta dapat menjadi pintu masuk untuk membangun semangat nasionalisme sekaligus ideologi ekonomi mandiri di kalangan generasi muda.

Di momentum Hari Kebangkitan Nasional ini, Hasto mengingatkan agar peringatan Harkitnas tidak berhenti pada seremoni semata.

“Kalau hanya upacara, nyanyi Indonesia Raya, lalu selesai, tidak akan ada perubahan. Yang penting bagaimana kebangkitan itu menjawab persoalan ekonomi bangsa,” ujarnya. (Aga)

Berita Terkait

Dishub DIY Raih Prestasi Nasional, Chrestina Erni Widiyastuti Jadi Pembina Terbaik II
Sleman Borong Dua Penghargaan Desa Wisata DIY 2026 Lewat Garongan dan Pulesari
Sleman Creative Weeks 2026 Dorong Ekspresi Kreatif dan Pelestarian Budaya
Semarak HUT ke-81 TNI, Bazar Korem 072/Pamungkas Diserbu Seribu Warga
Perkuat Daya Saing Pasar Tradisional, Sleman Siapkan Ruang dan Peralatan Live Selling
Densus 88 Antiteror Polri Bantu Warga Kedungpoh Gunungkidul Penuhi Kebutuhan Air Bersih
Warga Bantul Bersatu Bangun Asrama Yatim dengan Semangat Kebersamaan
Paripurna DPR RI Sahkan 15 RUU Kabupaten/Kota, Mendagri Tekankan Kepastian Hukum Pemda

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 18:50 WIB

Dishub DIY Raih Prestasi Nasional, Chrestina Erni Widiyastuti Jadi Pembina Terbaik II

Selasa, 22 September 2026 - 18:43 WIB

Sleman Borong Dua Penghargaan Desa Wisata DIY 2026 Lewat Garongan dan Pulesari

Selasa, 22 September 2026 - 18:37 WIB

Sleman Creative Weeks 2026 Dorong Ekspresi Kreatif dan Pelestarian Budaya

Selasa, 22 September 2026 - 18:20 WIB

Perkuat Daya Saing Pasar Tradisional, Sleman Siapkan Ruang dan Peralatan Live Selling

Selasa, 22 September 2026 - 16:32 WIB

Densus 88 Antiteror Polri Bantu Warga Kedungpoh Gunungkidul Penuhi Kebutuhan Air Bersih

Berita Terbaru