Trump Klaim Selat Hormuz Wilayah AS, Pakar UMY: Ada Kepentingan Geopolitik Tekan Iran
JABAROKENEWS.COM, YOGYAKARTA – Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Selat Hormuz sebagai “wilayah Amerika” kembali menjadi sorotan di tengah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Dalam kampanye di South Carolina pada Jumat (21/8/2026) waktu setempat, Trump kembali menyatakan klaimnya atas selat strategis yang terletak di antara Iran dan Oman tersebut. Sebelumnya, pada 18 Agustus, Trump juga mengunggah peta di media sosial Truth Social yang melabeli Selat Hormuz sebagai “NEW U.S. Territory” atau wilayah baru AS.
Klaim tersebut muncul ketika AS meningkatkan kontrol militernya terhadap lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut. Selat Hormuz memiliki posisi strategis bagi perekonomian dunia karena menjadi salah satu jalur utama perdagangan minyak dan gas global. Reuters mencatat bahwa sebelum konflik, lebih dari 20 juta barel minyak per hari melewati jalur tersebut, setara dengan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.
Pakar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ahmad Sahide, S.IP., M.A., menilai klaim tersebut sulit dibenarkan dari perspektif hubungan internasional. Menurutnya, posisi geografis Selat Hormuz yang berbatasan langsung dengan Iran dan Oman membuat klaim sepihak Amerika Serikat tidak dapat dilepaskan dari kepentingan geopolitiknya terhadap Iran.
Ia melihat pernyataan Trump lebih dekat sebagai instrumen tekanan politik terhadap Iran di tengah dinamika konflik yang masih berlangsung.
“Pernyataan itu tidak punya dasar hukum yang kuat. Saya melihat Trump memosisikan Amerika sebagai negara adidaya, tetapi klaim itu lebih merupakan bentuk tekanan terhadap Iran. Ketika Iran tetap mampu bertahan setelah konflik dengan Israel dan Amerika, Selat Hormuz menjadi instrumen penting yang dapat digunakan Iran untuk memberikan tekanan, baik kepada Amerika maupun dunia internasional,” ujar Sahide, Rabu (26/8) di UMY.
Menurut Sahide, kepentingan Amerika Serikat terhadap Selat Hormuz juga berkaitan erat dengan stabilitas ekonomi. Gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut dapat memengaruhi pasokan minyak dunia dan mendorong kenaikan harga energi. Kondisi itu pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian Amerika Serikat dan pemerintahan Trump.
Perkembangan terbaru juga menunjukkan kuatnya hubungan antara situasi Selat Hormuz dan pergerakan harga energi. Pada 25 Agustus, harga minyak dunia turun setelah muncul perkembangan pembicaraan Iran dan Oman mengenai pengelolaan dan pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
“Jika Selat Hormuz terganggu, harga minyak di Amerika ikut naik dan itu berdampak pada perekonomian mereka. Karena itu, Trump berkepentingan mengamankan jalur tersebut. Di sisi lain, Iran justru memperoleh posisi yang lebih kuat karena pengaruhnya terhadap jalur energi yang sangat dibutuhkan banyak negara,” jelasnya.
Selat Hormuz Berpotensi Jadi Titik Eskalasi AS-Iran
Menurut Sahide, kepentingan tersebut membuat Selat Hormuz berpotensi menjadi salah satu titik penting dalam eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Apabila AS meningkatkan kontrol atau kehadiran militernya secara paksa, Iran diperkirakan tidak akan tinggal diam.
Situasi tersebut berpotensi membuka kembali konfrontasi di kawasan yang sebelumnya telah mengalami ketegangan akibat konflik Iran-Israel dan keterlibatan Amerika Serikat. Hingga 25 Agustus, situasi Selat Hormuz masih dinamis. Iran dan Oman tengah membahas pembentukan koridor navigasi sementara, sementara Trump menyatakan ranjau di jalur pelayaran telah dibersihkan.
Bagi Sahide, perkembangan tersebut juga menunjukkan perluasan dimensi persaingan antara Amerika Serikat dan Iran. Jika sebelumnya ketegangan kedua negara banyak berkaitan dengan program nuklir Iran, kini kontrol dan akses terhadap jalur energi strategis turut menjadi bagian penting dalam rivalitas geopolitik keduanya.
“Awalnya isu utamanya adalah program nuklir Iran. Sekarang berkembang ke Selat Hormuz karena jalur ini memiliki nilai strategis bagi ekonomi global. Jika Iran mampu mempertahankan pengaruhnya di sana, posisinya akan semakin penting secara ekonomi dan politik. Saya melihat itulah yang tidak diinginkan Amerika Serikat,” pungkas Sahide. (LSI)
Sumber : humas umy

